isess2013.org

isess2013.org – Menteri BUMN, Erick Thohir, menyoroti dua isu global yang berpotensi memengaruhi kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia: penguatan dolar Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kedua situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang mungkin terjadi pada BUMN, khususnya yang bergantung pada impor bahan baku dan memiliki utang luar negeri yang signifikan.

Dinamika Utang Luar Negeri BUMN
Data terbaru dari Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa total utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2024 mencapai US 407,3  194,8 miliar, mengalami pertumbuhan 1,3% secara year-on-year (yoy), sementara ULN swasta menunjukkan kontraksi sebesar 1,3% yoy, dengan total mencapai US$ 197,4 miliar.

Fokus pada Utang BUMN
Khusus untuk BUMN, terdapat penurunan dalam jumlah utang yang dicatat. Bank BUMN memiliki utang luar negeri sebesar US 8,0 miliar pada tahun sebelumnya. Lembaga keuangan bukan bank BUMN mencatatkan utang US  2,2 miliar. Sedangkan, utang luar negeri untuk perusahaan BUMN non-lembaga keuangan tercatat sebesar US  42,9 miliar.

Langkah Pencegahan Erick Thohir
Erick Thohir telah mengeluarkan peringatan dan menginstruksikan agar BUMN mempersiapkan diri menghadapi fluktuasi nilai tukar dolar AS yang telah mencapai Rp 16.200. Dalam sebuah acara halalbihalal dengan media, beliau menekankan pentingnya mengoptimalkan pembelian dolar AS dan melakukan perhitungan risiko secara finansial yang detail.

Dampak Geopolitik dan Kebijakan BUMN
Kondisi geopolitik yang memburuk, terutama akibat konflik Iran-Israel, dapat berdampak negatif pada BUMN, khususnya yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan utang luar negeri dalam dolar AS, seperti perusahaan-perusahaan besar termasuk MIND ID, PLN, Pertamina, dan BUMN farmasi.

Adaptasi Strategis oleh BUMN
Erick Thohir menambahkan bahwa masing-masing perusahaan BUMN akan menyesuaikan pendekatannya berdasarkan konteks yang berbeda-beda. Pendekatan ini akan bergantung pada berbagai faktor termasuk situasi belanja modal (capex), pengeluaran operasional (opex), struktur utang, dan komposisi pendapatan dalam mata uang rupiah atau dolar. Beliau menegaskan bahwa perusahaan seperti BUMN Farmasi, MIND ID, dan Garuda Indonesia memiliki situasi yang berbeda dan oleh karena itu, memerlukan strategi yang disesuaikan.

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan perhatian khusus terhadap dampak potensial dari penguatan dolar AS dan situasi Timur Tengah yang tidak stabil terhadap operasional BUMN. Penekanan pada pentingnya manajemen risiko dan adaptasi strategis menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menavigasi tantangan ekonomi global dan meminimalisir dampak terhadap perusahaan negara. Kedepannya, BUMN diharapkan dapat terus mengembangkan dan menerapkan strategi yang resilien untuk menghadapi dinamika pasar dan kondisi politik global.

By admin